UAD Hadirkan “Incinerator Pintar” Berbasis IoT di Caturharjo, Perkuat Pengelolaan Sampah dari Hulu
(FTI News) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) resmi menyerahkan inovasi “Incinerator Pintar”. Teknologi ini dirancang untuk mengelola residu sampah secara ramah lingkungan dengan sistem pemantauan emisi berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat diakses masyarakat melalui ponsel pintar. Serah terima sekaligus soft launching teknologi Incinerator Sampah dan Deteksi Emisi Gas Berbasis IoT tersebut berlangsung di Kalurahan Caturharjo, Ahad (30/8). Kegiatan ini menjadi bagian dari Hibah LPDP dan Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI) Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Ketua tim penelitian sekaligus pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UAD, Prof. Ir. Anton Yudhana, S.T., M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa alat ini melengkapi sistem pengelolaan sampah terpadu di mana sampah terlebih dahulu dipilah berdasarkan nilai ekonominya. “Inovasi ini adalah bentuk tanggung jawab kampus agar riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Program yang didukung oleh pendanaan LPDP Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI) Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. melalui platform SEMESTA Kemdiktisaintek ini mengedepankan pendekatan living lab. Selain Incinerator Pintar, UAD juga menyerahkan aplikasi kesehatan “Si Waras” hasil karya mahasiswa PPK Ormawa.
Dr. Aris Winarna dari Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah terletak pada penanganan di hulu. Hal ini disinergikan dengan kearifan lokal Caturharjo, “Olah Sampah Coro Simbah”, yang mendorong warga mengelola sampah organik secara mandiri di rumah masing-masing.
Melalui kolaborasi pentahelik yang melibatkan akademisi, pemerintah, dan masyarakat, inisiatif ini diharapkan mampu mengubah paradigma pengelolaan sampah menjadi budaya baru yang mandiri, terukur, dan berkelanjutan di tingkat desa.
Doc: Spesial
Editing /(ns)

















