• Sitemap
  • Telp. 0274.563515 ext 4211
| Oleh | 28 Sep 2020 | 0 komentar

(FTI News) Meskipun pandemi Covid 19 saat ini masih melanda dunia yang berdampak langsung bagi dunia Pendidikan, seharusnya menjadikan dunia pendidikan semakin kreatif dan menemukan inovasi serta berbagai terobosan. Salah satunya yaitu penyelenggaraan konferensi internasional ilmu sosial dan ilmu rekayasa secara virtual pada tanggal 28-29 September 2020, yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta. Sejumlah tokoh nasional hadir dalam konferensi internasional ini, diantaranya  Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X.

Konferensi internasional yang mengusung tema “Mercu Buana International Conferences on Social Sciences (MICOSS) & On Broadband Communications, Wireless Sensors dan Powering (BCWSP), menghadirkan pembicara inti yang  tampil pada ajang MICOSS, diantaranya : Prof Takeshi Fukusako dari Kumamoto University Jepang, Prof Normah Mustaffa Pemred Jurnal Komunikasi Malaysian Journal of Communication, Universtias Kebangsaan Malaysia;  Prof Felina Young, Chancellor & Senior Vice President for Academic Affairs of Philippine Womens’ University, dan Anton Yudahana, S.T., M.T., Ph.D. ( Teknik Elektro Universitas Ahmad Dahlan).

Dosen Teknik Elektro Universitas Ahmad Dahlan, Anton Yudahana, S.T., M.T., Ph.D. pada konferensi tersebut menjadi pembicara ketiga dengan membahas “Impelementation of Internet of Thing on Agri Precision for Indonesian Farming”.

Ketahanan pangan telah menjadi isu yang perlu mendapat perhatian yang serius oleh semua  pihak. Melalui kementrian pertanian, pemerintah indonesia berupaya melakukan perbaikan- perbaikan dan menyusun strategi nasional dalam menghadapi isu tersebut. Pemerintah  berupaya menyempurnakan kebijakan produktifitas pertanian ( Revolusi 4.0 pada bidang pertanian).

kunci utama Revolusi 4.0 pada bidang pertanian yaitu berbasis jaringan internet. Jaringan internet ini akan terintegrasi atau terhubung dengan mesin atau perangkat, karena menggunakan jaringan internet sebagai penghubung maka secara otomatis untuk mengoperasikan mesin atau perangkat tersebut yang dilakukan secara jarak jauh dengan menerapkan metode “Smart Farming Precision Agriculture”.

Penerapannya lebih kepada penggunaan input berupa pestisida dan pupuk sesuai kebutuhan berdasarkan informasi olahan data pada tablet atau android sehingga tidak ada kelebihan dalam dosis serta dampak yang ditimbulkan pada pengaplikasian pupuk atau pestisida sesuai kebutuhan dan optimalisasi penggunaan input dan saving cost.

Konferensi internasional ini diikuti 320 peserta yang berasal 12 negara, yakni Indonesia, Uni Emirat Arab, Malaysia, Taiwan, Jepang, Cina, Irak, Kuwait, Polandia, Jerman dan Inggris. Pemakalah yang terdaftar terdiri dari 109 orang (MICOSS) dan 39 orang (BCWSP).

/(ns)