• Sitemap
  • Telp. 0274.563515 ext 3131
| Oleh | 25 Jul 2016 | 0 komentar

(FTI Press) Hasil pengembangan model pengelolaan ‘reverse logistics’ (RL) menunjukkan jika sikap lingkungan konsumen yang tinggi belum dapat tercapai, partisipasi konsumen dalam program ‘take back’ dapat dipacu dengan aturan pemerintah dan insentif ekonomi bagi konsumen, Beliau menyampaikan hasil penelitian itu dapat dijadikan pertimbangan bagi produsen ponsel dalam menjalankan program take “back ponsel” di Indonesia agar sesuai dengan karakteristik konsumen Indonesia. Penelitian selanjutnya perlu diarahkan untuk meneliti lebih mendalam baik pada pelaku formal maupun informal sehingga usulan perbaikan dapat diarahkan ke perubahan struktur pengelolaan RL ponsel,” ungkap beliau yang menyelesaikan Program Doktor di Universitas Gadjah Mada dengan diertasi “ Model Pengelolaan Reverse Logistic Jalur Formal Dan Informal Serta Mengakomodasi Perilaku Konsumen”.

DSC_0370
Perusahaan ponsel perlu gencar mempromosikan program “take back” agar masyarakat mengetahuinya, kata dosen Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Siti Mahsanah Budijati. “Hal itu perlu karena mampu mendorong niat konsumen untuk berpartisipasi dalam program ‘take back’ ponsel dan dapat digunakan untuk memperbaiki penerapan program tersebut yang selama ini kurang mendapat respons dari masyarakat. “Ungkap beliau saat jumpa pers dengan para wartawan di ruang sidang dekanat FTI Sabtu 23 Juli 2016. Dalam jumpa pers tersebut turut hadir Dekan FTI UAD Kartika Firdausy, S.T., M.T., Wakil Dekan FTI Endah Sulistiawati, S.T., M.T. , Ketua Program Studi Teknik Industri Anie Purwani, STP., M.T., serta staff humas fakultas.

DSC_0364

Beliau juga menambahkan, “kebijakan khusus dari pemerintah juga diperlukan untuk mendorong penerapan program “take back” ponsel serta peningkatan sikap lingkungan konsumen dan pemberian insentif ekonomi bagi konsumen yang berpartisipasi dalam program tersebut. Dengan demikian, kata dia, dapat dihasilkan pengembangan skenario yang juga merupakan strategi pengelolaan jaringan RL yang mampu mendukung keberadaan pelaku informal tetapi tetap aman bagi lingkungan. Model pengelolaan RL bermanfaat sebagai dasar pengambilan keputusan pengelolaan RL bagi sistem, wilayah atau negara yang tidak mewajibkan penerapan program “take back”. Informasi tentang faktor yang mempengaruhi konsumen untuk berpartisipasi dalam program ‘take back’ juga dapat digunakan oleh perusahaan yang menerapkan program tersebut agar sesuai dengan karakteristik konsumen sebagai pemasok sehingga aktivitas RL dapat berjalan lancar. /(ns)

Video Dokumentasi

Kategori

Organisasi Mahasiswa