• Sitemap
  • Telp. 0274.563515 ext 4211
| Oleh | 02 Agu 2017 | 0 komentar

(FTI Press) Desa Argorejo, Sedayu, Bantul merupakan salah satu destinasi agrowisata terbaik di DIY. Agrowisata yang dikembangkan adalah integrasi antara peternakan, pertanian, dan perkebunan. Salah satu komoditas agrowisata di desa Argorejo adalah jamur merang dan jamur tiram. Pada tahun 2015, menurut data statistik Kabupaten Bantul, Kecamatan Sedayu adalah daerah produsen jamur terbesar di DIY, yaitu dengan rerata luas panen 8.650 m2, rerata produksi 5,85 kuintal/m2, dan total produksinya adalah 50,644 kuintal. Di Desa Argorejo sendiri jumlah kelompok pembudidaya sejumlah 12 kelompok, baik mengembangkan komoditas budidaya jamur merang maupun jamur tiram. Salah satu kendala yang dihadapi oleh petani pembudidaya jamur tiram adalah faktor pengendalian suhu.

Kumbung Jamur di Kelompok “Mekar Harapan”, Metes, Sedayu, Bantul.

Pada saat musim penghujan, suhu udara di lingkungan sekitar budidaya jamur tiram mengalami penurunan dan kelembaban meningkat sehingga, menyebabkan kenaikan pada produksi jamur tiram. Di sisi lain, pada saat musim kemarau, suhu udara di lingkungan sekitar budidaya jamur tiram mengalami kenaikan dan kelembaban menurun drastis sehingga, menyebabkan produksi jamur tiram menjadi berkurang. Pada suhu udara yang terlalu tinggi, jika tidak dilakukan pengendalian secara sistematis, maka dapat menyebabkan kematian jamur tiram.

 

Percobaan Instalasi Nozzle untuk Pengkabutan.

Jamur tiram yang tumbuh pada kondisi yang lembab dan dingin, semisal di areal pegunungan akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Hal tersebut dipengaruhui oleh faktor syarat tumbuh jamur tiam yang ideal, yaitu pada suhu lingkungan dari 16-24oC dengan kelembaban 70-90% (Putranto dan Yamin, 2012). Pada kisaran suhu tersebut, semakin suhu lingkungan semakin rendah dan mempengaruhi peningkatan produksi jamur tiram. Selama ini untuk mengatasi penurunan suhu, pembudidaya menggunakan cara manual, yaitu menyemprotkan air ke lingkungan jamur. Oleh karenanya untuk menghemat tenaga, beberapa peneliti memberikan alternatif solusi salah satunya berupa sistem penyiraman tanaman jamur tiram otomatis berbasis mikrokontroler Atmega32. Alat ini mempunyai kelemahan, yaitu pada saat musim kemarau/lokasi di daerah cuaca yang panas, penyiraman otomatis biasa hanya membantu efesiensi tenaga pembudidaya jamur dalam menyiram dan tidak mampu mengendalikan suhu maupun kelembaban ruangan.

Peserta Pelatihan Penerapan Teknologi Tepat Guna ANFROM bersama Tim PPM UAD dan PPTI.

Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu perangkat yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban secara otomatis dengan memindai kondisi temperatur lingkungan. Salah satu referensi solusi yang dapat diaplikasikan adalah dengan menggunakan ANFROM (Automatic Condensator For Oyster Mushrooms). Anfrom merupakan teknologi yang mampu menurunkan suhu dan meningkatkan kelembaban lingkungan jamur tiram secara otomatis. Proses dalam menurunkan suhu dan meningkatkan kelembaban lingkungan yang digunakan oleh ANFROM dengan menggunakan kombinasi beberapa komponen utama, seperti blower, arduino uno, dan piezoelektrik (mistmaker) untuk memproduksi kabut yang lembab serta dingin. Alat ini dikembangkan melalui inkubasi bisnis teknologi di bawah Pusat Pengembangan Teknopreneurship Indonesia (PPTI) yang bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Tarnadi dan Gemi, 2016). PPTI bekerja sama dengan Tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM) UAD untuk mendiseminasikan alat inovatif tersebut kepada masyarakat binaan dari UAD.

Instalasi ANFROM di dalam Kumbung Jamur Tiram.

Dilatarbelakangi hal tersebut, maka Tim PPM dari Program Studi S-1 Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri UAD melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan teknologi tepat guna ANFORM di Kelompok Pembudidaya Jamur Tiram “Mekar Harapan”, Dusun Metes, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul pada bulan Mei-Agustus 2017. Materi yang disampaikan meliputi:

  1. Materi I: Teknik budidaya jamur tiram dengan aplikasi teknologi ANFROM dan instalasinya. Dilanjutkan dengan pendampingan pengecekan kinerja ANFROM di dalam kumbung jamur tiram.
  2. Materi II: Penyusunan SOP produksi jamur tiram dengan aplikasi teknologi ANFROM.
  3. Materi III: Aplikasi Six Sigma dalam produksi jamur tiram dengan aplikasi teknologi ANFROM dan pendampingan penggunaan SOP dan Six Sigma.

Adhita Sri Prabakusuma, S.P, M.Sc. selaku Ketua Tim PPM menyatakan bahwa, ‘Dengan adanya ANFROM tersebut dapat menstabilisasi produksi jamur tiram pada saat musim kemarau maupun saat adanya kenaikan temperatur lingkungan. Selain itu, kelompok “Mekar Harapan” dapat menjadi rujukan aplikasi teknologi tepat guna ANFROM untuk kelompok-kelompok lainnya’, pungkasnya. Adhita juga menyampaikan, ‘Diharapkan teknologi ini dapat semakin disebarluaskan dan dikomersilkan untuk menambah pendapatan petani jamur pada waktu-waktu mendatang.’ Tim PPM ini juga didukung oleh Dosen Teknologi Pangan UAD yang menguasai penyusunan SOP dan Six Sigma, yaitu Titisari Juwitaningtyas, S.T.P., M.Sc. Titisari menyatakan bahwa, ‘Teknologi tepat guna yang didesiminasi ke masyarakat perlu dibekali dengan SOP agar para pengguna yang umumnya adalah masyarakat desa lebih mudah dalam menerapkannya’, pungkasnya. Kegiatan PPM ini akan dilanjutkan hingga awal Agustus 2017 yang diakhiri dengan sosialisasi teknologi ANFROM dan SOP-nya kepada kelompok lain di luar Desa Argorejo. [adh] /Editing (ns)